Ketakutan-ketakutan akan membatasi Anda untuk melakukan berbagai hal yang sangat berarti bagi Anda.


Mulailah sekarang juga untuk melangkah,

menuju tujuan Anda

meskipun selangkah demi selangkah tetapi akan membawa Anda ke tujuan,

asal arah yang Anda tempuh benar.


Mimpi memang sangat perluuntuk memelihara gairah hidup dan kemajuan,

tetapi mimpi tanpa disertai tindakan hanyalah seperti pepesan kosong belaka.


Aplikasi atau tindakanlah yang membuat orang sukses,

tentu saja setelah mimpi yang tinggi

dan ilmu yang mencukupi.

Senin, 09 Januari 2012

Belajar dari HUJAN

Mungkin sekarang sudah waktunya berganti musim
Hari mulai hujan
Didahului langit hitam kelam...
Ada sedikit rasa takut...
Kesepian..
Kemudian turunlah hujan..
manusia dengan sejuta kegagahannya.
jadi tak berarti apa-apa disaat hujan..
hanya bisa diam..
Mungkin merenung..
Banyak memory yang tiba-tiba serasa menggores dada..
Disaat hujan..
Sejuta kenangan yang tanpa permisi hadir menyentuh jiwa..
Rasa pedih, perih, rindu, kangen kembali hadir bersama rintiknya hujan..
Hujan deras..
Ada yang mencermati, mengagumi, membiarkan diri..
Ada juga yang marah-marah karena aktivitasnya terhenti..
Ada rasa takut..
Merasa hujan bagai badai yang menghempas seluruh hidup..
TAPI SIANG INI
ENTAH MENGAPA HUJAN PUN JADI MAKNA..
Selalu ada pelangi setelah hujan..
Awan selalu kembali cerah..
Anak kecil, tukang jualan sampai pekerja kembali memenuhi jalan..
Hujan ternyata bukan untuk selamanya..
Kadang panjang..
Kadang teramat panjang..
tapi semua kembali normal..
Masih ada kehidupan setelah hujan..
MASALAH ITU IBARAT HUJAN..
BETAPAPUN BERAT..
BETAPAPUN SAKIT..
MENYESAKKAN..
Suatu hari..pasti akan berakhir..
Bersabar menunggu, mungkin merenung sambil menanti hujan usai..
Tidak perlu menerobos derasnya..
Membiarkan diri bertambah sakit..
Atau basah kuyup..
Sedikit lagi..
Matahari akan bersinar kembali..
Sedikit lagi keceriaan akan kembali mengisi hari..
SEDIKIT LAGI... Hang On!!

Selasa, 13 Desember 2011

Lamaran itu....


Siang yang cerah di Kota Bandung, dan bahagianya aku yang bisa kembali berkumpul bersama keluarga tercinta. Tak banyak yang berubah, selain teman – teman bermainku yang telah menggendong bayi mungil nan lucu, ach.. hidup ini memang terlalu singkat. Rasanya belum lama aku meninggalkan tempat ini, tapi teman- teman ku telah mendahuluiku untuk berkeluarga. Hmmm.... jodoh mereka begitu dekat, hanya do’a yang bisa ku persembahkan untuk pernikahan kalian, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah, meski aku tak dapat menyaksikan hari bahagia itu, tapi aku cukup bahagia dengan apa yang kalian rasakan.
Dalam lamunan ku siang itu, ingin rasanya aku segera memiliki sebuah keluarga kecil, dimana ada aku, imamku dan juga jundi-jundi penerus generasiku. Tapi, lagi-lagi itu hanya sebuah lamunan kecil.
“Assalamu’alaikum..” terdengar lirih di depan rumah, kutengok dari kaca jendela kamarku, Indra teman kecilku.
“Wa’alaikumsalam.., masuk Dra” jawabku seraya mempersilahkannya masuk ke dalam rumah. “Tumben, ada apa nih? Sedang tidak sibukkah?” tanyaku membuka percakapan.
“Gak ada apa-apa, hanya ingin berkunjung dan bersua denganmu, rasa-rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu, di beberapa liburanmu tahun – tahun lalu, aku masih disibukkan dengan perkuliahan yang makin hari jadwalnya semakin padat saja, padahal ingin sekali aku bercerita kala liburanmu tiba, btw.. apa kabar, Li? Aku dengar kali ini kepulanganmu bukan sekedar untuk liburan, benarkah??” jelasnya panjang lebar
“iya ya, sudah lama kita tidak bersua. Seperti yang kamu lihat InsyaALLAH aku baik – baik saja. Perihal kepulanganku kali ini, aku memang berniat untuk kembali menetap di tempat ini.” Jawabku
Obrolan pun berlanjut, Indra bercerita banyak tentang masa – masa kuliahnya, dan sekarang sedang mempersiapkan untuk test Beasiswa S2 di Perancis, Subhanallah.. dia benar – benar menjadi bintang di keluarganya. Dan aku pun menceritakan bagaimana jatuh bangunnya kehidupanku di perantauan. Tak terasa siang itu pun berlalu, sambil berpamitan dia menyerahkan sebuah amplop putih kepadaku
“apa ini Dra?” tanyaku
“buka saja, tapi nanti ya, aku pamit pulang dulu.” Jawabnya
“baiklah, btw, sudah masuk waktunya ashar, sholat dulu disini ya Dra.” Ajakku.
Tidak biasanya Indra menolak ajakanku, dia memilih untuk sholat di rumahnya saja. Dan ia pun berlalu meninggalkanku dalam kebingungan, tiba-tiba Satria datang menghampiriku (kakak sepupuku), dan berkata
“sudahlah, berarti dia bukan imam yang baik buatmu”
Aku tak membalas perkataan itu, langsung kuambil air wudhu dan kudirikan sholat. Dalam doa’ku, apa maksud dari perkataan kak Satria? Bisa – bisanya dia berkata seperti itu? Lagian Indra itu kan hanya teman kecilku, dan aku rasa dia pun telah punya pilihan untuk mendampingi perjuangannya.
Teringat aku akan amplop putih yang diberikan Indra, perlahan kubuka dan kulihat isinya, secarik kertas putih bertuliskan goresan – goresan tinta hitam. Ku baca perlahan, berulang – ulang hingga ku mengerti apa maksud dari tulisan itu. masyaAllah dia melamarku lewat secarik kertas ini?? Tak kuasa aku pun menitikkan air mata, entah bahagia atau sedih. Teringatku perkataan kak Satria, ya Allah, apa yang harus kulakukan?
Dan haripun berganti, masih dengan kebimbangan yang kurasa. Indra yang selama ini dekat denganku, ternyata menginginkan aku untuk menemani perjuangannya? Ada celah keraguan dihati ini, entah apa itu.
***
Alarm pun berbunyi, menandakan waktu sudah pukul 03.00 dini hari, tahajud time... Ku terbangun, dan Astagfirullah.. itu hanya mimpi. Dan aku masih tetap disini, diperantauan untuk menggapai impian dan harapanku.


Mimpi yang mungkin sebagai petunjuk dari-Nya, bahwa Dia telah persiapkan seorang yang lebih baik yang akan menjadi imamku, dan orang itu adalah kamu, jodohku.

Kamis, 24 November 2011

FlashBack (putih abu)


Disodori dua brosur Sekolah, SMKN2 Cilegon (Kimia) dan SMK As-Syuhada Al-Khaeriyah di hari kedua aku berada di Kota ini, deg! Hati ini down, sungguh, aku ingin bersekolah di SMA, bukan SMK. Kala itu hatiku benar – benar menolak, ingin kukatakan bahwa aku memilih untuk kembali ke Kampung halamanku, tapi bibir ini tak kuasa berucap...
Tapi, akhirnya kakak sepupuku itu mengajakku ke sebuah SMK yang tidak ada di brosur itu, ya... SMK YP 17 Cilegon, menjadi pilihan beliau (bukan pilihanku). Hari –hariku semakin sulit, entah kenapa aku masih belum bisa menerima keputusan ini. 3 tahun, berada di tempat yang tak kuinginkan, mungkinkah dapat kulalui??? Pertanyaan itu yg terus berseliweran dibenakku..
Namun seiring berjalannya waktu, aku tak peduli mengenai keberadaanku, yang ku tahu “bukan apa yang sekolah ini berikan untukku, tapi apa yang bisa kuberikan untuk sekolah ini?”, hal ini yang membuat sudut pandangku berubah. Aku mulai bangkit, berusaha aktif di berbagai kegiatan. Aku bertekad dalam hati, bahwa namaku harus mengukir sejarah di sekolah ini, bagaimanapun caranya!!
Mulai saat itu pun aku membenahi pola pikirku, semangat belajarku dan memanaj waktuku sebaik mungkin. Tak ingin kusia-siakan sedetik saja untuk hal yang tidak akan memberikan manfaat dalam hidupku. Akupun mulai mengenal satu persatu orang yang akan menemani perjuanganku. And i’m proud of you all..
Even pertama yang berhasil aku ikuti bersama dua orang kakak kelasku adalah UNTIRTA Accounting Chalange di tahun 2008, meski tak dapat posisi di 3 besar, bahkan harus tersisih di penyisihan awal, itu tak menyusutkan tekadku untuk terus do something. Dan mulai banyak lah even – even lain yang aku ikuti, namun tidak membuahkan hasil maksimal. Never Give Up!!!
Tahun 2009 adalah tahun kejayaanku dimulai, aku menemukan sahabat hati (baca : Dina Purwanti) yang bisa menemani perjuanganku mewujudkan tekadku, meski sering kita berselisih faham, tapi aku terlanjur jatuh hati padanya... sebesar apapun rasa kecewaku terhadapnya, masih lebih besar rasa sayang ini untuknya..
Even selanjutnya adalah UNTIRTA Accounting Chalange (lagi), kali ini aku ditemani Chrisnia (teman seangkatanku) dan Alif (adik kelasku). Puji syukur, perjuangan kami dibalas dengan kemenangan di posisi kedua setelah SMAN 1 Tangerang dengan selisih 1 poin saja.
Setelah UAC, aku kembali harus mempersiapkan untuk Lomba Kompetensi Siswa (LKS), even paling bergengsi untuk tingkat SMK (kalo SMA Olympiade). Ada 2 kandidat untuk LKS Akuntansi (kudengar demikian) aku dan Chrisnia, namun entah apa yang menjadi pertimbangan para pembimbing kami, akhirnya aku yang  mewakili SMK YP 17 Cilegon untuk bidang lomba Akuntansi. Aku tidak sendiri berjuang ada Dina, Chris, Tiara, & Yuri di kategori Debat B. Inggris, Diah (secretary), Muniroh (Marketing), Intan  (perhotelan), Debora (TKJ), Yula (B. Indonesia) dan teman2 yang berjuang dalam bidang olah raga.
We'r the Champion
9 Januari 2010, aku dan rekan2 bisa mempertahankan predikat SMK 17 sebagai juara umum LKS tingkat Kota Cilegon, Alhamdulillah... dan yang sangat membuat hatiku bahagia adalah ketika “sahabat hati” ku pun akan menemani perjuanganku di LKS tingkat Prov. Banten. Karena selain motivasi dari diri sendiri, motivasi darinya (baca  :  Dina Purwanti) bisa menambah kekuatan tersendiri untukku. Dan berjuangan pun belum berakhir, kami harus tetap berlatih untuk even selanjutnya. Namun, kami harus kehilangan 1 teman perjuangan dari TKJ. (tetap semangat teman, meski perjuanganmu harus terhenti karena hal yg tidak masuk akal).
Aku pun bersyukur memiliki guru pembimbing yang sangat luar biasa (baca : Bu Ineu Anugrah), beliau sungguh luar biasa mendampingiku, mengajarkanku bukan hanya tentang Siklus Akuntansi atau pun Presentasi, tapi lebih pada pelajaran berharga dalam menghadapi peliknya kehidupan. Thank you mom... u’r the best.

best part
19 -21 April 2010 di Tangerang Selatan,  perjuanganpun dimulai...
3 hari kami bergelut dengan materi lomba yang diujikan, menambahkan kekuatan kami untuk saling memberikan kekuatan motivasi. Alhasil, sungguh luar biasa... ku persembahkan predikatku sebagai Juara 1 LKS Akuntansi tk. Prov. Banten untkmu (Baca : untuk Bu Ineu, Ibundaku, Ayahandaku dan sahabat hatiku DP)... dan perjuangan sesungguhnya pun baru akan dimulai.. LKS tk. Nasional

*Di salah satu kamar Hotel Santika Tangsel*
2 malam bersama guruku tercinta, rasa kagum terhadapnya semakin nyata... aku tahu beliaupun menyayangiku, sulit ku ungkapkan betapa aku menyayangimu... cukuplah aku yang tahu bagaimana aku mencintaimu...  bu, lelahnya aku dengan materi perlombaan itu, lebih lelah dirimu yang membimbingku sampai diposisi ini. Lelahnya hatiku atas perlakuan mereka, lebih lelah hatimu akan teguran-teguran mereka karena salahku. Maafkan aku, tak bisa kupersembahkan sesuatu yang lebih, selain kemenangan ini untukmu....

*Di salah satu kamar Red Top Hotel Jakarta*
12-15 Mey 2010, kembali bersama guru tercinta mengarungi malam, kali ini langit Jakarta yang menaungi kami.
Bukannya aku takut bermimpi, tapi usahaku belum mencapai maksimal untuk mempersembahkan kado terindah dihari ulang tahunmu, Bu. Aku tahu, begitu banyaknya orang yang mendoakan agar aku bisa berikan kado terindah untukmu. Maafkan aku Bu, aku tidak bisa mewujudkan harapanmu, tekad yang kubulatkan dalam hati untuk membalas rasa sakit yang kita rasakan selama disini, ternyata belum cukup untuk membawaku naik ke panggung itu sebagai 5 besar LKS Nasional Akuntansi. Malam puncak yang menambah kesakitan ini adalah ketika tak ada orang yang memperdulikanku kecuali dirimu.... aku tahu lebih sakit hatimu dibandingkan aku.. namun, tak semestinya kau rasakan ini bu. Cukuplah hati kita yang tahu, betapa keadilan tak tercipta malam itu. Bu, mungkin perjuanganku telah berakhir di Kota Jakarta ini, tapi perjuanganmu untuk membimbing anak2mu yang lain, adik-adik kelasku masih sangat panjang. Mungkin bukan aku yang akan mempersembahkan juara nasional untukmu, tapi kuyakin suatu saat nanti akan ada anakmu yang membalas perjuanganmu itu..meski tak akan sempurna. Terlalu banyak pengorbananmu untukku...

Dan....
Akhirnya aku pun berhasil melewati 3 tahun ku “ditempat yang tak kuinginkan” itu. Terimakasih ku yang tak terhingga untuk Bu Ineu Anugrah dan Dina Purwanti yang telah menghiasi hari – hariku dengan penuh arti. Juga kepada guru – guru tercinta Pak Tatang, Bunda Aan. Mrs. Imas, Pak Muhdi, Pak Harun, Pak Amin, Pak Darmono, Bu Nurina dan semua guru – guru tercinta semasa SMK ku, tak lupa Bu Elina Melanie, yang tak sempat mengantarkanku samapi kegerbang kelulusan, u’r the first mom whom i love. Juga kepada sahabat – sahabat ku Yustika, Erliana, Wiwit Putri, Gayu, Rohilah, Novi, Nofie, dan semua akuntansi 3, pengurus OSIS i love u all. Terima kasih telah mau menerima kehadiranku dalam kehidupan kalian..

Aku merindukan saat – saat indah itu...